Minggu, 06 Maret 2011

Bermain Dilapangan : Sepakbola dan Politik

. Minggu, 06 Maret 2011

Bulat dan bundar memang sama persis. Tapi politik dan bola, tidak hanya memiliki kesamaan, tapi juga banyak perbedaan. Samanya, bola dan politik punya tujuan kemenangan dan kekuasaan. Dan keduanya dalam dimensi probabilitas. Yang memiliki kualitas teknik, mental,kepemimpinan, dan modal, kecenderungan menangnya lebih tinggi. Bedanya politik memiliki legitimasi dalam mencapai tujuan. Sementara sepakbola mengedepankan unsur persaingan. Yang terbaik bukan ditentukan oleh banyaknya suara dan seberapa besar massa yang mendukung tetapi oleh banyaknya gol ke gawang lawan. Dewasa ini sepakbola tidak hanya sekedar banyaknya gol yang tercipta, tetapi juga permainan indah ala Jogo Bonito maupun Tango.
Sepakbola adalah sebuah permainan yang terukur yang diatur dengan aturan-aturan yang sangat jelas. Misalnya, yang bertanding dilapangan adalah sebelas orang melawan sebelas orang, ukuran lapangan, ukuran gawang, warna dan bentuk pakaian yang digunakan sampai lamanya pertandingan, semua diatur dengan jelas.

Untuk menentukan menang kalah pun ukurannya jelas, yaitu jumlah gol yang bersarang digawang lawan. Disaksikan oleh para penonton pasif yang hanya bisa menyemangati dan berkomentar tapi tidak berhak ikut ambil bagian dilapangan. Sementara itu, politik apalagi politik di Negara Demokrasi adalah sebuah permainan kolektif yang melibatkan seluruh rakyat yang menghuni Negara tersebut. Dalam politik, siapa lawan dan siapa kawan sangat cair, posisi sebagai lawan atau kawan bisa berubah dalam hitungan detik. Ukuran menang dan kalah juga tidak bisa diukur dengan angka-angka yang pasti. Aturan main dan pemilihan wasitpun diatur oleh para pemain sendiri.

Dalam politik partai yang kalah dalam Pemilu Legislatif bisa menang dalam pemilihan Presiden. Dalam politik juga tidak ada penonton pasif, seluruh rakyat yang hidup dalam sebuah Negara Demokrasi adalah pemain aktif yang ikut menentukan arah permainan.

Politik memang merambah dunia sepakbola. Berlusconi semasa menjabat sebagai Perdana Menteri sanggup menjadi orang nomor satu di AC Milan. Prestasinya sangat mengesankan. Beberapa kali AC Milan diantarkan ketangga juara. Mahkota Liga Champions Eropa bahkan pernah direbutnya.

Publik boleh menilai, untuk melapangkan jalan menuju tahta kekuasaan diperlukan banyak pelicin yang kita sebut sebagai uang. Di Indonesia kalimat ini boleh kita tambahkan untuk menjadi Walikota/Bupati kita memerlukan sepakbola sebagai penarik simpati rakyat. Dengan kata lain pengertian sepakbola di Indonesia memiliki persepsi sebagai ladang uang, simpati dan kesuksesan.

Tetapi tergantung siapa yang memandang bahwa sepakbola sekedar bagian dari kehidupan politik. Pada hakekatnya politik bukan kita gunakan sebagai diktator atau membentuk sebuah pemerintahan otoriter. Politik kita gunakan untuk mengatur rakyat menuju keadilan sosial disamping kemakmuran rakyat itu sendiri.

Disisi lain, sepakbola dijadikan ajang menarik simpati rakyat. Menjelang Pilkada Klub yang dibina salah satu peserta Pilkada disibukkan untuk meraih kemenangan sebagai alat kampanye. Kemenangan dihargai mahal dan dijadikan dalih ini adalah berkat usaha sang peserta Pilkada tersebut.

Apa jadinya jika kita menyelipkan sebuah permainan kotor dan mencoba mencampur adukkan antara politik dengan sepakbola. Jangankan permainan menarik yang bisa kita tonton. Bisa-bisa dilapangan kita menyaksikan sepakbola brutal, sepakbola gajah atau yang kita sebut sebagai permainan sabun dan sederet tindakan unsportivitas lainnya, jika Negara Indonesia ini diibaratkan sebagai sebuah tim sepakbola.

Maka dalam tim Indonesia ini dapat kita saksikan terdapat banyak sekali “striker” handal yang sangat piawai mencetak gol. Hanya saja, sayangnya para pemain yang berposisi sebagai “striker” di tim Indonesia ini seluruhnya lebih mementingkan pencapaian pribadi sebagai “pencetak gol terbanyak,” dibandingkan pencapaian tim secara kolektif yaitu kemenangan.

Jadi pada masa sekarang, sebenarnya yang sangat dibutuhkan di Negara ini adalah “pelatih” dan “playmaker” berkualitas, bukan “striker” yang jumlahnya melimpah ruah.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 
PASANG IKLAN DISINI. Silahkan Hubungi Kami 0813 74 991124
INDAHNYA KEBERSAMAAN

TERIMA KASIH atas kunjungan anda, Semoga Blog ini dapat menjadi media Penyerap, Penampung, Penyalur dan Memperjuangkan Aspirasi, sehingga kita semua dapat Mewujudkan Tatanan Kehidupan Masyarakat Yang Kritis Dan Dinamis Dalam Menggerakan Dinamika Pembangunan Yang Berlandaskan Pada Prinsip-Prinsip Pemerintahan Yang Baik Dan Bersih Di Bawah Ridho Allah SWT.
by : HERDIYULIS Anggota DPRD Kota Solok Periode 2009-2014 © 2009 Copyright